|
Kupas
Tuntas Sosiologi Organisasi
Bag
1
Batasan,
Pengertian Sosiologi Organisasi
Organisasi
merupakan salah satu fenomena sosial yang tidak bisa lepas dari
kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia tidak bisa menolak
kehadiran organisasi dalam kehidupannya. Dilihat dari aspek material
sosiologi, yaitu masyarakat dan dari aspek formal sosiologi, yaitu
interaksi antarmanusia serta proses dan akibat yang timbul dari
interaksi itu, ternyata masih saja ada kekaburan dan kerancuan dari
pengertian dan lingkup sosiologi organisasi.
Metode
yang digunakan dalam studi sosiologi organisasi ditentukan oleh
tujuan penelitian yang dirancang berdasar pada karakteristik data
yang dikumpulkan dan juga dipengaruhi atas dasar suatu pandangan
filsafat tertentu.
Oleh
karena itu, sosiologi sering kali dinyatakan sebagai ilmu yang
berparadigma ganda yang hal ini disebabkan oleh:
perbedaan
pandangan filosofi dari para ahli sosiologi;
perbedaan
teori yang dibangun atas dasar pandangan filosofi tadi;
akibatnya
metodenya pun berbeda.
Konsep-konsep
Dasar dalam Sosiologi Organisasi
Organisasi
merupakan salah satu fenomena sosial yang tidak bisa lepas dari
kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia tidak bisa menolak
kehadiran organisasi dalam kehidupannya. Dilihat dari aspek material
sosiologi, yaitu masyarakat dan dari aspek formal sosiologi, yaitu
interaksi antar manusia serta proses dan akibat yang timbul dari
interaksi itu, ternyata masih saja ada kekaburan dan kerancuan dari
pengertian dan lingkup sosiologi organisasi.
Metode
yang digunakan dalam studi sosiologi organisasi ditentukan oleh
tujuan penelitian yang dirancang berdasar pada karakteristik data
yang dikumpulkan dan juga dipengaruhi atas dasar suatu pandangan
filsafat tertentu.
Oleh
karena itu, sosiologi sering kali dinyatakan sebagai ilmu yang
berparadigma ganda yang hal ini disebabkan oleh:
perbedaan
pandangan filosofi dari para ahli sosiologi;
perbedaan
teori yang dibangun atas dasar pandangan filosofi tadi;
akibatnya
metodenya pun berbeda.
KELOMPOK
SOSIAL DAN ORGANISASI SOSIAL
Batasan
Pengertian Kelompok Sosial dan Organisasi Sosial
Beberapa
karakteristik dari kelompok sosial, yaitu nilai-nilai kelompok,
norma-norma kelompok, peran dan posisi, serta status dan ikatan
kelompok, sedangkan tipe-tipe kelompok sosial mencakup in-group dan
out-group, kelompok primer dan kelompok sekunder, serta kelompok
formal dan kelompok informal. Pada kelompok informal terdapat juga
beberapa bentuk ikatan, antara lain kelompok persahabatan atau
persaudaraan, dan klik. Klik ini juga terdiri dari klik vertikal,
klik horizontal, klik campuran, serta subklik.
Dinamika
Kelompok dalam Organisasi
Dinamika
kelompok umumnya mengacu kepada kerja sama, persaingan, dan konflik
yang terjadi antaranggota kelompok maupun antarkelompok. Hal ini pada
dasarnya mempengaruhi keanggotaan kelompok, di mana faktor-faktor
dukungan individual, sikap anggota kelompok, kepuasan kerja, sikap
tolong-menolong, ketegangan dan kegelisahan, serta perkembangan
individual ikut andil di dalamnya. Beberapa masalah yang berkaitan
dengan kelompok, seperti konflik peran dan konflik antarkelompok
merupakan sumber konflik yang selalu terjadi di dalam setiap
organisasi. Penyebabnya, antara lain karena perebutan sumber daya,
perbedaan status, dan perbedaan persepsi
TIPE-TIPE
ORGANISASI SOSIAL
Dasar
Tipologi Organisasi
Kesamaan
karakteristik mengenai fenomena organisasi biasanya selalu dijadikan
dasar dalam menentukan tipologi atau klasifikasi fenomena organisasi.
Tipologi atau klasifikasi tersebut mencakup, antara lain organisasi
yang bergerak berdasarkan keuntungan, sistem wewenang, tanggapan
anggota, keterlibatan emosi anggota, tujuannya, kebutuhan sosial,
pembagian biaya dan nilai, luas wilayah, pucuk pimpinan, dan saluran
wewenang.
Organisasi
Formal dan Organisasi Informal
Di
dalam organisasi formal terdapat organisasi informal. Berkembangnya
organisasi informal ini karena struktur formal tidak dapat memberikan
pemenuhan kebutuhan para anggotanya dan juga kebutuhan organisasi
(formal) itu sendiri. Keduanya yaitu organisasi formal dan organisasi
informal memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal tujuannya,
mekanisme kontrol, karakteristik dan sebagainya.
Di
dalam organisasi formal, birokrasi merupakan salah satu bentuk yang
sering kali memiliki konotasi negatif hanya karena ketidaktahuan
konsep awal birokrasi oleh masyarakat. Weber, seorang sosiolog
Jerman, melihat birokrasi yang ideal itu memiliki beberapa sifat,
yaitu:
adanya pembagian kerja;
hierarki otoritas;
sistem pemeliharaan dokumen
tertulis dan formal;
pengaturan, tata cara dan
aturan;
tenaga ahli terlatih;
hubungan
yang impersonal.
Weber
sendiri secara historis, mengatakan bahwa tumbuhnya organisasi
birokrasi di Eropa ditandai dengan revolusi industri di Eropa. Untuk
ini Blau sepakat dan menyatakan bahwa latar belakang tumbuhnya
birokrasi di Eropa pada waktu itu ditandai oleh 4 faktor sebagai
berikut.
Berkembangnya ekonomi uang.
Munculnya sistem kapitalisme.
Kuatnya etika Protestan.
Besarnya
ukuran organisasi.
TEORI
ORGANISASI
Teori-teori
Organisasi
Menurut
teori organisasi klasik, rasionalitas, efisiensi, dan keuntungan
ekonomis merupakan tujuan organisasi. Teori ini juga menyatakan bahwa
manusia itu diasumsikan bertindak rasional sehingga secara rasional
dengan menaikkan upah, produktivitas akan meningkat.
Max
Weber dengan konsep birokrasi idealnya menekankan pada konsep
otoritas dan kekuasaan yang sah untuk melakukan kontrol kepada pihak
lain yang berada di bawahnya sehingga organisasi akan terhindar dari
penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakefisienan.
Frederick
Taylor mengajukan konsep "manajemen ilmiah" yang inti
gagasannya adalah "bagaimana cara terbaik untuk melakukan
pekerjaan". Untuk ini Taylor membuat standardisasi mulai dari
seleksi (rekruitmen), penempatan, yang menurutnya merupakan sistem
hubungan kerja antara manusia dengan mesin sehingga dengan semua itu,
pekerjaan dapat dianalisis secara ilmiah.
Henry
Fayol mengembangkan teori yang memusatkan perhatiannya pada pemecahan
masalah-masalah fungsional kegiatan administrasi. Fayol mengajukan
konsep Planning, organizing, command, coordination, dan control yang
menjadi landasan bagi fungsi dasar manajemen. Fayol juga mengemukakan
empat belas prinsip yang sangat fleksibel yang digunakan sebagai
dasar bagi manajer dalam mengelola organisasi. Keempat belas prinsip
itu adalah pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin,
kesatuan perintah, kesatuan arah, mengutamakan kepentingan umum,
pemberian upah, sentralisasi, rantai perintah, ketertiban, keadilan,
kestabilan masa kerja, inisiatif, dan semangat korps. Gagasan Fayol
sendiri didukung oleh koleganya di AS yaitu Gulick, Urwick, Mooney
dan Reiley.
Meskipun
mendapat banyak kritik yang menganggap bahwa teori-teori klasik itu
telah mengabaikan faktor humanistik, deterministik, dan tertutup,
tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa teori klasik merupakan peletak
dasar dari teori-teori administrasi modern.
Dinamika
Kelompok dalam Organisasi
Teori
neoklasik dan modern muncul sebagai reaksi atas konsep-konsep yang
dikemukakan oleh para ahli teori klasik meskipun tidak sepenuhnya
mengabaikan prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh teori klasik.
Pendekatan
yang dilakukan oleh ahli teori neoklasik dan modern ini adalah
pendekatan perilaku atau bahavioral approach (human relation
approach). Pendekatan ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen yang
dikenal dengan Hawthorne Experiment yang secara garis besar dibagi
dalam 4 tahap. Pertama mengkaji efek lingkungan dari produktivitas
pekerja. Kedua, melakukan konsultasi dengan pekerja yang ikut
eksperimen. Ketiga, melakukan wawancara dengan pekerja (yang tidak
ikut eksperimen) melalui pertanyaan terbuka. Tahap keempat, adalah
eksperimen yang dikenal dengan bank - wiring - room experiment.
Hasil
eksperimen tersebut adalah (1) sistem sosial para pekerja ikut
berperan dalam organisasi formal, (2) imbalan nonfinansial dan sanksi
berperan dalam mengarahkan perilaku pegawai, (3) kelompok ikut
berperan dalam menentukan kinerja dan sikap anggota kelompok, (4)
munculnya pola kepemimpinan informal, (5) komunikasi yang makin
intensif, (6) kepuasan dan kenyamanan bekerja meningkat, (7) pihak
manajemen dituntut untuk lebih memahami situasi sosial.
Experiment
Hawthorne menjadi pemicu munculnya beberapa pemikiran baru (yang
masih dalam kerangka humanistik) dari Follets dan Barnard termasuk
McGregor dengan teori X dan Y-nya. Termasuk munculnya teori sistem
yang melihat organisasi sebagai suatu sistem yang memiliki (1)
subsistem teknis, (2) subsistem sosial, (3) subsistem kekuasaan.
Kemudian, juga munculnya teori kontingensi yang dibangun atas dasar
prinsip-prinsip yang telah dikembangkan oleh pendekatan sistem. Teori
kontingensi ini pada prinsipnya melihat bahwa organisasi harus
berlandaskan pada sistem yang terbuka (open system concept).
Sumber
Sosiologi Organnisasi Karya Sharman
|